Tampilkan postingan dengan label Dunia Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Sains. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Februari 2012

7 PARA ILMUWAN WANITA YANG MENJADI PENEMU

1. Marie Curie


Dia adalah ilmuwan terkenal perempuan, spesialisasi dalam bidang-bidang seperti kimia dan fisika. Ilmuwati ini dikenal sebagai penemu dari polonium radioaktif dan radium elemen dan sebagai orang pertama yang memenangkan hadiah Nobel.

2. Nesmith Bette Graham


Dia menemukan kertas cair, awalnya disebut “Mistake out”, zat yang digunakan untuk menutupi kesalahan yang dibuat di atas kertas.

3. Mary Anderson


Dia menemukan perangkat untuk membersihkan jendela mobil, kini dikenal dengan wiper kaca depan mobil.

4. Stephanie Kwolek


Dia adalah seorang penemu dan ilmuwan, ibu dari Kevlar serat baja seperti sintetis yang digunakan pada ban radial, helm keselamatan, dan rompi antipeluru.

5. Grace Murray Hopper


Dia menerobos bidang yang mayoritas dikuasai laki-laki daam hal Pemrograman. Dia adalah penemu bahasa pemrograman COBOL.

6. Ruth Wakefield


Dia menemukan cara membuat chocolate chip cookie.

7. Lillian Moller Gilbreth


Dia adalah ratu ergonomi. Kita bisa berterima kasih atas tempat sampah dengan pedal kaki, mixer makanan listrik, rak di pintu kulkas dan perbaikan dapur lainnya.

Jumat, 24 Februari 2012

Mumi Italia Berusia 200 Tahun

Mumi Italia yang luar biasa ini telah diawetkan hampir 200 tahun yang lalu untuk demonstrasi medis. Giovan Battista Rini, mengelupas kulitnya untuk menunjukkan otot, saluran udara dan pembuluh darah di dalam kepala. Akademisi telah menemukan spesimen yang disuntik dengan arsenik dan merkuri atau direndam dalam bak mandi kimia untuk menjaga mereka tetap utuh untuk penelitian.

Meskipun proses mumifikasi selalu dikaitkan dengan Mesir Kuno, proses tersebut juga dilakukan selama berabad-abad untuk kepentingan peneliti dan mahasiswa kedokteran. Mumi tersebut telah ditambahkan rambut palsu, gigi. dan penutuo mata. Namun, mereka dipelihara dengan sangat baik.

Koleksi spesimen tersebut disimpan di Rumah Sakit Desenzano dekat Verona, sedikitnya lima mumi. Para peneliti menulis dalam jurnal Clinical Anatomi bahwa koleksi ini dalam 'keadaan pelestarian yang sangat baik.' Koleksi tersebut terdiri dari lima kepala dengan leher, dua torsos dan satu hati.

Dua dari orang-orang yang tubuhnya dibekukan, dulunya adalah seorang penjahat, sementara yang lain dianggap telah disumbangkan oleh rumah sakit setempat. Para peneliti melakukan CT scan dan rontgen pada spesimen untuk melihat bagaimana mereka dipelihara dan menemukan teknik luas sesuai dengan yang digunakan pada saat itu.

Dalam arsenik abad ke-19, kapur, silikon dioksida dan belerang adalah bahan yang biasa digunakan untuk mengawetkan mayat. Namun metode yang tepat dan zat-zat yang digunakan oleh Giovan Battista Rini tidak diketahui, tetapi reporter majalah National Geographic percaya jika Giovan menggunakan arsenik dan merkuri dan bahan kimia lainnya untuk mengawetkan.

Meskipun tidak diketahui persis kapan mummifications dilakukan, namun menurut perkiraan proses tersebut dilakukan pada pertama abad ke-19, karena Giovan Battista Rini hidup pada tahun 1795-1856. Mereka menemukan bahwa permukaan semua sisa-sisa mumi secara khusus tebal karena bahan kimia yang digunakan.















Akan Ada Letusan Gunung Berapi di Bulan

 

VIVAnews - Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Geosciences, di masa depan, manusia akan menikmati pemandangan indah, yakni letusan gunung berapi di Bulan yang terlihat dari Bumi.

Menggunakan informasi yang dikumpulkan oleh seismometer yang dipasang di Bulan saat misi Apollo digelar, diketahui bahwa sekitar 30 persen lapisan yang mengelilingi inti Bulan yang terbuat dari logam merupakan zat cair.

Menurut Renee Weber, peneliti dari Marshall Space Flight Center NASA yang mengetuai studi pemetaan dan pemodelan Bulan, lava cair itu berada di kedalaman 1200 sampai 1350 kilometer di bawah permukaan Bulan.

Lalu, mengapa tidak ada gunung berapi aktif di sana?

Dikutip dari Gizmodo, 21 Februari 2012, permukaan Bulan sama seperti planet mati. Letusan gunung berapi terakhir yang terjadi di Bulan terjadi beberapa miliar tahun yang lalu.

Untuk mengetahui apakah akan ada letusan gunung berapi di bulan, sekelompok peneliti yang diketuai Mirjam van Kan Parker dan Wim van Westernen dari VU University, Amsterdam coba mencari jawabannya.

Berhubung manusia tidak bisa mengakses lava yang ada di Bulan, peneliti menggunakan sampel bebatuan seberat 350 kilogram yang dibawa oleh Apollo dari Bulan. Mereka kemudian menempatkan batu itu di kondisi serupa dengan perut Bulan. Yakni dengan tekanan lebih dari 45.000 bar serta temperatur sekitar 1.500 derajat Celsius.

Setelah menciptakan lava buatan, mereka kemudian menganalisa dan membuat simulasi komputer. Ternyata, diketahui bahwa magma Bulan kaya dengan titanium.

Artinya, lava cair itu terlalu berat untuk dapat mengalir ke permukaan Bulan. Padahal, agar lava bisa meletup di permukaan Bulan, ia perlu lebih ringan.

“Setelah magma terbentuk, mereka terakumulasi di lapisan bawah Bulan. Kira-kira seperti gunung berapi namun terbalik. Saat ini, Bulan sedang berada dalam fase pendinginan, demikian pula dengan bagian dalamnya,” kata Westrenen. “Ini menjawab pertanyaan mengapa tidak ada gunung berapi di Bulan,” ucapnya.

Tetapi, bagaimana dengan di masa depan?

Di masa depan, lava yang lebih dingin itu akan berubah komposisinya. Kemungkinan, ia akan menjadi tidak terlalu padat dibandingkan dengan zat-zat yang ada di sekelilingnya. “Magma yang lebih ringan ini dapat dengan mudah bergerak ke permukaan dan membentuk gunung berapi di Bulan,” kata Westrenen. “Itu akan menjadi pemandangan yang sangat indah,” ucapnya.

Sayangnya, tidak satupun dari kita yang hidup saat ini bisa melihat fenomena letusan gunung berapi di Bulan. Pasalnya, proses tersebut akan membutuhkan waktu jutaan tahun. (sj)

LinkWithin

LinkWithin